Bagaimana Pengetahuan Lokal Memperkaya Penelitian Ilmiah

Rooted propagules cultivated using soilless method with the Mangrove Bintan Lestari community. 2026. Foto oleh Pak Henky Irawan.

Semakin banyak ilmuwan saat ini mendorong agar penelitian tidak hanya terbatas di lingkungan akademik. Melalui pertukaran pengetahuan dengan masyarakat lokal, penelitian dapat berkembang menjadi lebih bermakna dan efektif.

Sejak 2018, Pak Henky Irawan, seorang ilmuwan kelautan sekaligus dosen di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), telah bekerja sama dengan komunitas lokal di Bintan, seperti Sekolah Mangrove Pengudang, Mangrove Bintan Lestari, dan Kelompok Mangrove Senggarang, untuk mengembangkan serta menjalankan program penanaman dan pemantauan mangrove. Ahli di bidang akuakultur, ia tertarik meneliti cara meningkatkan produktivitas laut, sambil tetap menjaga pemulihanekosistem pesisir dan memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat.

Industri akuakultur sering dianggap sebagai salah satu ancaman utama bagi mangrove di Indonesia. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sektor ini menjadi salah satu pendorong utama hilangnya hutan mangrove pada paruh akhirabad ke-20. Namun, dengan pendekatan yang tepat, para penggiat akuakultur restoratif meyakini bahwa hal ini tidak harus demikian.

Penelitian Pak Henky bertujuan mengembangkan pendekatan inovatif dalam penanaman mangrove yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat melalui program pelatihan. Salah satu riset terbarunya mengkaji penggunaan hidroponik, yaitumetode budidaya tanpa tanah yang mengandalkan nutrisi dari air. Ia bereksperimen untuk mengintegrasikan metode ini ke dalam program penanaman mangrove yang sudah ada guna meningkatkan efisiensi, misalnya, alih-alih membawa polybag berisi tanah yang berat ke lokasi penanaman, ratusan propagul yang sudah bertunas dapat dipindahkan sekaligus dalam keranjang besar.


Semakin banyak ilmuwan saat ini mendorong agar penelitian tidak hanya terbatas di lingkungan akademik. Melalui pertukaran pengetahuan dengan masyarakat lokal, penelitian dapat berkembang menjadi lebih bermakna dan efektif.

Sejak 2018, Pak Henky Irawan, seorang ilmuwan kelautan sekaligus dosen di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), telah bekerja sama dengan komunitas lokal di Bintan, seperti Sekolah Mangrove Pengudang, Mangrove Bintan Lestari, dan Kelompok Mangrove Senggarang, untuk mengembangkan serta menjalankan program penanaman dan pemantauan mangrove. Ahli di bidang akuakultur, ia tertarik meneliti cara meningkatkan produktivitas laut, sambil tetap menjaga pemulihanekosistem pesisir dan memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat.

Industri akuakultur sering dianggap sebagai salah satu ancaman utama bagi mangrove di Indonesia. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sektor ini menjadi salah satu pendorong utama hilangnya hutan mangrove pada paruh akhirabad ke-20. Namun, dengan pendekatan yang tepat, para penggiat akuakultur restoratif meyakini bahwa hal ini tidak harus demikian.

Penelitian Pak Henky bertujuan mengembangkan pendekatan inovatif dalam penanaman mangrove yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat melalui program pelatihan. Salah satu riset terbarunya mengkaji penggunaan hidroponik, yaitumetode budidaya tanpa tanah yang mengandalkan nutrisi dari air. Ia bereksperimen untuk mengintegrasikan metode ini ke dalam program penanaman mangrove yang sudah ada guna meningkatkan efisiensi, misalnya, alih-alih membawa polybag berisi tanah yang berat ke lokasi penanaman, ratusan propagul yang sudah bertunas dapat dipindahkan sekaligus dalam keranjang besar.

Gagasan ini muncul dari diskusi dengan warga yang melihat bahwa biji mangrove secara alami dapat berakar di air. Di alam, propagul mangrove dapat terlepas dari pohon induknya dan mengapung di laut hingga delapan bulan. Selama itu, propagulmampu menumbuhkan akar dan daun dari nutrisi air laut, sebelum akhirnya menancap di tanah. Pak Henky meyakini bahwa metode hidroponik dapat mengurangi stres saat penanaman, karena pada tahap awal propagul sudah tumbuh secara alamidari nutrisi air, bukan tanah. Namun, hal ini masih perlu dibuktikan melalui penelitian lanjutan.

Video berikut menjelaskan lebih lanjut pandangan beliau tentang bagaimana temuan warga setempat dapat menginspirasi perancangan penelitian serta mengubah pengalaman masyarakat menjadi cara restorasi mangrove baru di Bintan. Video ini juga menampilkan Dr. Nisha dan Dr. Taillardat dari Earth Observatory Singapore, Nanyang Technological University, yang berbagi pengalaman tentang bagaimana pertukaran pengetahuan dengan warga lokal dapat memperkaya bidang ilmu mereka.

CONTRIBUTORS

CONTRIBUTORS

Henky Irawan
Henky Irawan
Ilmuwan kelautan dan dosen di Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang

Henky Irawan adalah ilmuwan kelautan dan dosen di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Indonesia, dengan pengalaman lebih dari satu dekade dalam inovasi budidaya perairan dan pengelolaan ekosistem pesisir. Karyanya berfokus pada pengembangan budidaya perairan restoratif, yang mengintegrasikan restorasi ekologis dengan sistem produksi yang berkelanjutan. Ia telah memimpin berbagai penelitian tentang mangrove, lamun, terumbu karang, serta spesies bernilai ekonomi penting seperti kerapu dan rumput laut. Penelitian tersebut menghasilkan berbagai inovasi penting, termasuk perbanyakan mangrove secara hidroponik dan struktur terumbu buatan yang dirancang untuk mendukung pemulihan ekosistem. Penelitian Henky menghubungkan praktik budidaya perairan dengan strategi karbon biru, konservasi keanekaragaman hayati, dan ketahanan pesisir berbasis masyarakat. Ia secara aktif mendorong pendekatan berbasis ekosistem yang dapat memperkuat pemulihan habitat sekaligus mendukung mata pencaharian masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan Indonesia. Dengan latar belakang akademik dan kepemimpinan yang kuat, ia turut berperan dalam menjembatani ilmu pengetahuan, kebijakan, dan pelaksanaan di tingkat masyarakat.

Dr Khairun Nisha
Dr Khairun Nisha
Research Fellow at Earth Observatory of Singapore

Dr Nisha is a Research Fellow in the Coral Geomorphology Group at the Earth Observatory Singapore, NTU. She specializes in palaeoecology and geochemistry analyses of peat and sediment from different forests. Her research focuses on reconstructing past environmental and ecological changes using multi-proxy approaches, including pollen, charcoal, stable carbon and nitrogen isotopes, and geochronology indicators. Currently, her work investigates tipping points in Singapore’s mangrove ecosystems in response to Holocene sea-level changes. By integrating field observations, laboratory analyses, and quantitative data interpretation, her research aims to improve understanding of long-term coastal ecosystem dynamics and contribute to the conservation and restoration of mangrove. 

Dr Pierre Taillardat
Dr Pierre Taillardat
Nanyang Assistant Professor at Asian School of the Environment
Pierre Taillardat is a Nanyang Assistant Professor at Nanyang Technological University (NTU), within the Asian School of the Environment (ASE), specializing in wetland ecosystems, carbon cycling, and nature-based climate solutions. Combining field-based measurements with advanced modelling approaches, he contributes to improving the quantification of wetland carbon dynamics and their role in climate mitigation, with a particular interest in mangroves and tropical peatlands.