Transplantasi Terumbu Karang: Aksi Pelestarian Berbasis Masyarakat

Rudi dan timnya saat kegiatan transplantasi karang. Atas izin Rudi.

Di sepanjang pesisir Pulau Bintan, berbagai upaya pelestarian yang digerakkan oleh masyarakat setempat terus dilakukan untuk membantu memulihkan terumbu karang yang rusak. Salah satunya adalah inisiatif yang dipelopori oleh Rudi, seorang penyelam muda asal Bintan yang menggabungkan kegiatan restorasi terumbu karang dengan ekowisata dan edukasi lingkungan. Lulusan perikanan dari salah satu perguruan tinggi di Tanjungpinang ini bekerja di Bintan Black Coral Dive Centre di Teluk Bakau, Bintan Timur, serta bersama Bintan Resorts di Lagoi. Melalui aktivitasnya, Rudi mengajarkan teknik menyelam dan transplantasi karang, sekaligus mengajak wisatawan memahami kondisi terumbu karang yang semakin terancam dan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem laut.

Bagi Rudi, masa depan terumbu karang dan kesejahteraan masyarakat pesisir saling berkaitan. Terumbu karang yang sehat tidak hanya menjaga keanekaragaman hayati laut dan menopang sektor perikanan, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat. Selama terumbu karang dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan, ekosistem ini dapat terus memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat pesisir. Menurut Rudi, restorasi terumbu karang bukan semata-mata upaya pelestarian lingkungan, teta[i investasi untuk memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang masyarakat yang tinggal di sepanjang pesisir Bintan.

Rudi di atas perahunya, sedang bersiap untuk kegiatan pemantauan karang, Pulau Maoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia, 20 Oktober 2025. Atas izin NTU CCA Singapore.

Rudi di atas perahunya, sedang bersiap untuk kegiatan pemantauan karang, Pulau Maoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia, 20 Oktober 2025. Atas izin NTU CCA Singapore.

Di sisi lain, Rudi juga menyadari berbagai ancaman yang dihadapi terumbu karang saat ini. Kenaikan suhu global sekitar 1–2°C dapat menimbulkan tekanan besar pada karang, yang berujung pada pemutihan (coral bleaching) hingga kematian karang. Ancaman akibat perubahan iklim ini semakin diperparah oleh aktivitas manusia, seperti pembangunan pesisir yang tidak berkelanjutan, penangkapan ikan yang merusak, dan aktivitas wisata. Semua faktor tersebut menambah beban bagi ekosistem terumbu karang yang pada dasarnya sudah rentan. Menghadapi ini, Rudi bersama masyarakat bertindak nyata menangani tekanan lingkungan dan sosial yang sama-sama mengancam kehidupan terumbu karang di Bintan.

Rudi melakukan upaya ini melalui transplantasi karang, yaitu metode pemulihan terumbu karang dengan menanam koloni karang baru yang berasal dari fragmen karang sehat pada media yang sesuai. Teknik ini membantu terumbu karang yang rusak untuk pulih secara bertahap dan memperbaiki area yang rusak. Selain itu, transplantasi karang juga menjadi cara yang nyata untuk menunjukkan kepada pengunjung bahwa terumbu karang dapat kembali tumbuh jika diberi waktu dan perawatan yang tepat. Rudi memulai proyek restorasi karang pertamanya pada tahun 2021 di Teluk Bakau, Bintan Timur, dengan dukungan penuh dari Bintan Black Coral Dive Center, tempat lokasi restorasi tersebut berada. Pada tahun 2025, ia memulai proyek kedua di Lagoi, di kawasan Bintan Beach International Resort. Program ini dilaksanakan di bawah naungan PT Buana Megawisatama dan direncanakan akan diperluas ke area pesisir resort yang lebih luas.

Citra satelit area pembibitan karang di Lagoi, di dalam kawasan Bintan Beach International Resort, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia, 26 Mei 2026. Atas izin Rudi.

Citra satelit area pembibitan karang di Lagoi, di dalam kawasan Bintan Beach International Resort, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia, 26 Mei 2026. Atas izin Rudi.

Citra satelit area pembibitan karang di Lagoi, di dalam kawasan Bintan Beach International Resort, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia, 26 Mei 2026. Atas izin Rudi.

Citra satelit area pembibitan karang di Lagoi, di dalam kawasan Bintan Beach International Resort, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia, 26 Mei 2026. Atas izin Rudi.

Dengan panjang garis pantai lebih dari 73 km yang mencakup ekosistem terumbu karang, mangrove, dan padang lamun, kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata utama di Bintan. Di tempat inilah Rudi berupaya mengintegrasikan kegiatan transplantasi karang dengan pengembangan wisata berbasis konservasi.

Rudi dan timnya bekerja berdasarkan perencanaan yang matang dan terarah. Sebelum kegiatan transplantasi dilakukan, mereka terlebih dahulu melakukan survei lokasi untuk menilai kondisi setempat, termasuk berapa banyak karang yang hidup, guna menentukan apakah suatu area layak untuk direstorasi. Setelah lokasi yang sesuai ditetapkan, kegiatan transplantasi kemudian dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode yang disesuaikan dengan kondisi lapangan dan pertimbangan teknis..

Tim Rudi saat kegiatan pemantauan karang, Teluk Bakau, Gunung Kijang, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Tim Rudi saat kegiatan pemantauan karang, Teluk Bakau, Gunung Kijang, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Tiga jenis struktur yang paling sering digunakan adalah coral spider, coral tree, dan coral square. Coral spider adalah rangka besi permanen berbentuk menyerupai jaring laba-laba yang dilapisi epoxy dan pasir agar tidak mudah berkarat. Pembuatan struktur ini memakan waktu 35 hari. Metode ini banyak digunakan karena relatif mudah dibuat dan tingkat keberhasilannya pertumbuhan karang tinggi. Sementara coral tree adalah struktur sementara yang menyerupai pohon. Fragmen karang digantung pada tali yang terpasang pada pipa, dengan pemberat di bagian bawah dan pelampung di bagian atas agar tetap tegak dan stabil di dalam air. Struktur ini memakan waktu pengerjaan 25 hari. Memerlukan satu tahun bagi karang untuk tumbuh di struktur ini. Setelahnya, struktur tersebut dapat diperbaiki dan digunakan kembali. Sementara coral square merupakan struktur permanen yang terbuat dari balok semen yang disusun berbentuk persegi dilengkapi pipa-pipa kecil di atasnya. Struktur ini menjadi tempat yang kuat dan stabil bagi karang untuk tumbuh di lokasi yang telah ditentukan.

Struktur coral spider untuk transplantasi, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Struktur coral spider untuk transplantasi, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Dalam proses pemasangannya, Rudi dan tim menerapkan metode berdasarkan jenis struktur yang dipakai. Pada coral tree, setiap cabang dapat menampung delapan fragmen karang, dan satu struktur memiliki delapan cabang, sehingga mampu menampung hingga 64 fragmen karang. Fragmen yang digunakan umumnya berasal dari karang bercabang jenis Acropora dengan ukuran sekitar 8 cm. Pengambilannya dibatasi tidak lebih dari sekitar 10% dari koloni induk agar tidak merusak karang asal. Struktur ini kemudian ditempatkan pada kedalaman sekitar tujuh meter agar suhu dan pencahayaan lebih stabil. Sementara itu, coral spider dapat menampung sekitar 18 fragmen karang per struktur. Fragmen-fragmen tersebut dipasang menggunakan pengikat kabel (cable tie). Untuk metode ini, tim menggunakan berbagai jenis karang bercabang, seperti Acropora, Seriatopora, Stylophora, Pocillopora, dan Porites. Ukuran fragmen yang digunakan juga sekitar 8 cm dan sebaiknya berasal dari lokasi yang sama agar karang lebih mudah beradaptasi dan memiliki peluang hidup yang lebih tinggi.

Rudi saat kegiatan transplantasi, menempelkan fragmen karang (Acropora) pada struktur spider, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Rudi saat kegiatan transplantasi, menempelkan fragmen karang (Acropora) pada struktur spider, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Fragmen karang (Acropora) yang ditempelkan pada struktur spider, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Fragmen karang (Acropora) yang ditempelkan pada struktur spider, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Fragmen karang (Acropora) yang ditempelkan pada struktur spider, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Fragmen karang (Acropora) yang ditempelkan pada struktur spider, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Fragmen karang (Acropora) yang ditempelkan pada struktur coral square, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Fragmen karang (Acropora) yang ditempelkan pada struktur coral square, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Fragmen karang (Acropora) yang ditempelkan pada struktur coral tree, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia. Atas izin Rudi.

Fragmen karang (Acropora) yang ditempelkan pada struktur coral tree, Sebong Lagoi, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia. Atas izin Rudi.

Setelah proses transplantasi selesai, Rudi dan tim melakukan pemantauan secara rutin untuk memastikan karang tetap sehat dan tumbuh dengan baik. Pemantauan dilakukan setiap 15 hari sekali, dengan fokus pada pembersihan sedimen dan alga yang menempel pada struktur pembibitan karang agar tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan karang tinggi. Dalam setiap pemantauan, fragmen karang diukur untuk mengetahui pertambahan tinggi dan lebarnya, sementara fragmen yang mati akan diganti dengan yang baru. Tim juga memeriksa kualitas air sebagai salah satu indikator kesehatan ekosistem terumbu karang secara keseluruhan. Seluruh hasil pemantauan didokumentasikan dengan baik dan dibagikan kepada para peserta, sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan karang sekaligus memahami proses restorasi yang sedang berlangsung.

Setelah tumbuh selama sekitar satu tahun di area pembibitan, fragmen karang dapat dipindahkan dan ditanam kembali di terumbu karang menggunakan struktur transplantasi permanen yang baru. Pemilihan struktur dan lokasi penanaman dilakukan berdasarkan hasil pemantauan selama satu tahun. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memulihkan ekosistem terumbu karang, tetapi juga agar dapat melibatkan wisatawan dan masyarakat setempat untuk ikut melihat, memahami, dan ikut terlibat melalui kegiatan wisata berbasis konservasi.

Rudi di area pembibitan karang di lepas pusat selam Bintan Black Coral, Teluk Bakau, Gunung Kijang, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Rudi di area pembibitan karang di lepas pusat selam Bintan Black Coral, Teluk Bakau, Gunung Kijang, Bintan, Indonesia. Juni 2025. Atas izin Rudi.

Berdasarkan upaya yang telah dilakukan, Rudi dan tim berupaya memperluas kawasan konservasi di Bintan melalui berbagai target restorasi yang nyata, termasuk penambahan struktur coral spider, coral tree, dan coral square bekerja sama dengan mitra seperti PT Buana Megawisatama. Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan tutupan karang hidup dan mendukung pemulihan keanekaragaman hayati laut, tetapi juga memiliki nilai edukasi yang besar. Ia menjelaskan, “Dengan adanya program konservasi, kami dapat menawarkan wisata petualangan berbasis ekowisata yang tidak hanya memberikan pengalaman menarik, tetapi juga pengetahuan yang dapat membuat masyarakat lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.”

Keterlibatan masyarakat dan kerja sama berbagai pihak menjadi bagian penting dari kegiatan ini. Rudi dan tim melibatkan komunitas penyelam dari perguruan tinggi di Tanjungpinang dalam kegiatan pemantauan dan penelitian, bekerja sama dengan pusat-pusat penyelaman sebagai mitra konservasi, serta mengajak penyelam lokal sebagai relawan. Upaya tersebut didukung oleh berbagai program, seperti pelatihan eco-diving yang menggabungkan kegiatan menyelam dengan penanaman karang, skema pembagian pendapatan yang sebagian hasilnya digunakan untuk mendanai kegiatan restorasi, serta program adopsi karang bagi perusahaan maupun individu. Ke depan, mereka juga berencana mengembangkan paket wisata ekowisata yang menggabungkan aktivitas menyelam dengan restorasi terumbu karang langsung.

Sejauh ini, hasil yang dicapai oleh Rudi dan tim positif. Penelitian pada area pembibitan coral tree menunjukkan bahwa setelah enam bulan, fragmen karang yang ditransplantasikan mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 3,05 cm dengan tingkat kelangsungan hidup sekitar 75%. Selebihnya gagal karena fragmen yang diambil berasal dari koloni induk yang kurang sehat. Program ini juga memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata, khususnya di pusat penyelaman Bintan Black Coral, yang mencatat peningkatan jumlah pengunjung sekitar 40–60 persen antara tahun 2023 dan 2024. Menariknya, sekitar separuh dari tamu yang kembali berkunjung tertarik karena ingin melihat atau terlibat dalam kegiatan restorasi terumbu karang. Selain itu, program ini mendapat respons positif dari perguruan tinggi dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, serta telah ditiru oleh destinasi wisata lain. Program ini juga menjadi salah satu pelopor di Bintan karena membuka akses bagi masyarakat untuk mengunjungi terumbu karang buatan yang dikembangkan dengan konservasi. Lokasi-lokasi tersebut juga menjadi ruang belajar. Mahasiswa tidak hanya diberi kesempatan untuk belajar secara langsung, tetapi juga bisa melakukan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir mereka terkait konservasi terumbu karang.

Kontributor

Rudiansyah
Rudiansyah
Praktisi restorasi karang dan penyelam profesional di Bintan, Indonesia

Rudi adalah praktisi restorasi karang dan penyelam profesional yang berbasis di Bintan, Indonesia. Ia memiliki gelar di bidang Perikanan dari Universitas Maritim di Tanjungpinang dan bekerja bersama Bintan Black Coral di Teluk Bakau, Bintan, serta berkolaborasi dengan Bintan Resorts di kawasan Bintan Beach International Resort, Lagoi. Melalui pekerjaannya, ia memimpin berbagai inisiatif transplantasi karang, kegiatan pemantauan, dan program edukasi yang menghubungkan konservasi terumbu karang dengan kegiatan selam, pariwisata, dan keterlibatan masyarakat.