University students conducting mangrove monitoring activities at a planting site at Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Courtesy NTU CCA Singapore.
Pak Iwan Winarto, pendiri Sekolah Mangrove Pengudang di Kecamatan Teluk Sebong, Bintan, telah memandu berbagai pengunjung lokal maupun mancanegara menyusuri hutan mangrove Pengudang sejak tahun 2016. Pada malam hari, kawasan mangrove ini gelap gulita, hanya diterangi cahaya senter dan kelap-kelip kunang-kunang di antara dahan-dahan pohon. Menurut beliau, keberadaan kunang-kunang tersebut menjadi tanda bahwa ekosistemmangrove di kawasan itu masih sehat.
Dari atas sampan, pengunjung dapat melihat tiram yang menempel pada akar tunjang pohon Rhizophora di bawah air yang jernih. Berbagai satwa lain seperti udang kecil yang melompat, kepiting, dan ikan-ikan kecil yang bergerak lincah di air mengingatkan kita akan kekayaan hayati yang ada berkat hutan mangrove.
Pak Iwan Winarto, pendiri Sekolah Mangrove Pengudang di Kecamatan Teluk Sebong, Bintan, telah memandu berbagai pengunjung lokal maupun mancanegara menyusuri hutan mangrove Pengudang sejak tahun 2016. Pada malam hari, kawasan mangrove ini gelap gulita, hanya diterangi cahaya senter dan kelap-kelip kunang-kunang di antara dahan-dahan pohon. Menurut beliau, keberadaan kunang-kunang tersebut menjadi tanda bahwa ekosistemmangrove di kawasan itu masih sehat.
Dari atas sampan, pengunjung dapat melihat tiram yang menempel pada akar tunjang pohon Rhizophora di bawah air yang jernih. Berbagai satwa lain seperti udang kecil yang melompat, kepiting, dan ikan-ikan kecil yang bergerak lincah di air mengingatkan kita akan kekayaan hayati yang ada berkat hutan mangrove.
Stilt roots of the Rhizophora trees often serve as important habitats for fish, oysters, and other marine animals. Courtesy NTU CCA Singapore.
Stilt roots of the Rhizophora trees often serve as important habitats for fish, oysters, and other marine animals. Courtesy NTU CCA Singapore.
Sejak berdiri pada tahun 2016, Sekolah Mangrove Pengudang telah bekerjasama dengan berbagai pihak seperti pemerintah daerah, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) dan peserta muda yang berusia enam tahun untukmempromosikan edukasi mangrove melalui kegiatan ekowisata. Kegiatan rutin mereka antara lain penanaman mangrove dan wisata kunang-kunang.
Kegiatan ekowisata ini memberi masyarakat desa sumber penghasilan lain yang lebih berkelanjutan selain menangkap ikan. Pekerjaan sebagai nelayan juga tidak selalu mudah, terutama saat musim angin dari Januari hinggaApril ketika hasil tangkapan ikan biasanya turun jauh. Selama bulan tersebut, nelayan sering kali bergantung pada bantuan para tengkulak atau toke untuk memenuhi kebutuhan hidup selama tidak melaut. Melalui berbagaiprogram ini, masyarakat desa dapat menambah penghasilan dengan membuka homestay, menjadi pemandu wisata mangrove dan kunang-kunang, serta mengajarkan keterampilan dan pengetahuan mereka melalui pelatihanmemasak, kerajinan bambu, budidaya madu, dan berbagai kegiatan lainnya.
Brownies made with mangrove propagules made and sold by Mak Eha, a resident in Pengudang Village. She sells them to visiting guests at the Pengudang Mangrove School. Courtesy NTU CCA Singapore.
Brownies made with mangrove propagules made and sold by Mak Eha, a resident in Pengudang Village. She sells them to visiting guests at the Pengudang Mangrove School. Courtesy NTU CCA Singapore.
Ekowisata juga turut mendorong pembangunan infrastruktur desa. Pada tahun 2010, desa Pengudang mengadakan Festival Seafood Pengudang pertama, yang menampilkan beragam hasil laut setempat. Kendaraan dariberbagai wilayah di Bintan memadati area pantai karena tingginya antusiasme pengunjung terhadap festival ini. Berkat keberhasilan acara tersebut, desa Pengudang memperoleh izin dan dukungan pendanaan dari PemerintahKabupaten Bintan untuk membangun jalan lintas utama desa. Pada tahun 2011, setelah festival kembali sukses diselenggarakan, desa Pengudang akhirnya mendapatkan aliran listrik yang stabil.
Women from Pengudang Village performing during the annual Seafood Festival. Courtesy NTU CCA Singapore.
Women from Pengudang Village performing during the annual Seafood Festival. Courtesy NTU CCA Singapore.
Sekolah ini juga bekerja sama dengan para ilmuwan kelautan dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) di Tanjungpinang dalam kegiatan penanaman mangrove. Hingga saat ini, mereka sudah menanam 12.000 bibitmangrove dan terus aktif memantau pertumbuhannya.
Dalam video ini, Pak Iwan berbagi cerita tentang berbagai upaya restorasi mangrove berbasis masyarakat yang ia jalankan bersama timnya. Video ini juga menghadirkan Faiz Mulana Darmawan, mahasiswa dari UMRAH yang ikut dalam kegiatan penanaman dan pemantauan mangrove, yang menceritakan pelajaran yang didapatkan dari pengalamannya di kegiatan tersebut.
Video
CONTRIBUTORS
Iwan Winarto
Founder of Pengudang Mangrove School
Iwan Winarto runs the community space, Pengudang Mangrove School in Bintan, Indonesia and has started various ecotourism initiatives to support the Pengudang village including mangrove tours, restoration projects and homestays. The Pengudang Mangrove school focuses largely on educating locals and tourists on the importance of protecting mangrove forests that face local and existential threats and initiates mangrove restoration projects around Bintan Island.