Pemakaman leluhur masyarakat Orang Laut di Kampong Masiran, Kawal, Bintan. Maret 2026. Foto oleh NTU CCA Singapore.
Bagi komunitas Orang Suku Laut di Desa Kawal, Bintan, menanam mangrove bukan sekadar aktivitas melainkan tradisi yang diwariskan turun-temurun sejak zaman leluhur mereka.
Johannes Jamil, generasi ketiga sekaligus tokoh di komunitas Orang Suku Laut, berbagi cerita bagaimana ia diajarkan memilih dan menanam propagul (buah mangrove): “Kita harus mengambil buah yang kira-kiratiga atau empat hari lagi jatuh karena sudah benar-benar matang. Jangan ambil yang masih muda, tidak akan hidup.” Ia juga diajarkan cara menanam yang baik yaitu dalam satu lubang tidak lebih dari tiga propagul, dan setiap kelompok tanaman diberi jarak satu hingga dua langkah. Tujuannya agar pohon bisa tumbuh optimal tanpa saling berebut nutrisi.
Hutan bakau di pesisir pantai tempat tinggal komunitas Orang Laut di Kawal, Kampong Masiran, Bintan, saat ini. Maret 2026. Foto oleh NTU CCA Singapura.
Hutan bakau di pesisir pantai tempat tinggal komunitas Orang Laut di Kawal, Kampong Masiran, Bintan, saat ini. Maret 2026. Foto oleh NTU CCA Singapura.
Sebagian besar warga tinggal di rumah panggung kayu yang berada di dua sisi, satu menghadap ke laut lepas tempat mereka mencari ikan, satu lagi berbatasan dengan hutan mangrove yang lebat, tempat merekamemasang perangkap kepiting. Untuk sampai ke desa ini, kita harus naik perahu saat air pasang. Namun saat air surut seperti ketika kami berkunjung, kita bisa berjalan kaki di atas hamparan pasir. Sebelum turundari dermaga, kami diminta melepas alas kaki sebagai bentuk penghormatan, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan tanpa alas kaki.
Kepiting terlihat saat berjalan di dataran bakau menuju desa Orang Laut. Maret 2026. Foto oleh NTU CCA Singapura.
Kepiting terlihat saat berjalan di dataran bakau menuju desa Orang Laut. Maret 2026. Foto oleh NTU CCA Singapura.
Seperti di Desa Pengudang, sebagian besar mangrove yang ditanam di sepanjang pesisir adalah mangrove jenis Rhizophora. Mangrove jenis lain, seperti perepat (Sonneratia alba), yang sebelumnya tidak berhasilditanam. Beberapa pohon Rhizophora kelihatan lebih besar dibanding yang lain. Johannes yakin bahwa pohon-pohon tua itu kemungkinan ditanam oleh buyutnya terdahulu.
Sejak kecil, ia juga diingatkan bahwa propagul bukanlah mainan:
“Jangan dimain-main jadi sayur. Pasang. Masukkan ke tanah.”
Bagi mereka, propagul adalah mahluk hidup yang mesti dijaga dengan penuh perhatian.
Hutan mangrove sangat penting bagi sumber kehidupan sebagai tempat mencari ikan kecil dan kepiting, sumber obat-obatan, hingga tempat mengambil kayu untuk membangun rumah. Bahkan, alasan kenapamakam para leluhur mereka tidak jauh dari kawasan mangrove hanya kurang dari satu kilometer adalah karena tanaman seperti nipah (Nypa fruticans) ada fungsinya dalam ritual dan upacara adat.
Pohon nipah tumbuh di sepanjang sungai bakau di Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Maret 2026. Foto oleh NTU CCA Singapura.
Pohon nipah tumbuh di sepanjang sungai bakau di Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Maret 2026. Foto oleh NTU CCA Singapura.
Namun, kawasan yang sakral ini kini terancam. Johannes sangat khawatir dengan dampak aktivitas tambang pasir terhadap pergerakan ikan. Menurutnya, nelayan tradisional kini semakin sulit memprediksipergerakan ikan karena suhu air dan arus laut yang terus berubah, bahkan cangkang kepiting ikut berubah.
Dalam video berikut, Johannes mengajak kita memahami bahwa menanam mangrove bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga tentang merawat sumber kehidupan sekaligus menjaga hubungan kitadengan leluhur. Ia juga bercerita tentang berbagai perubahan yang kini mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Video
Demonstration of how mangroves can act as natural coastal
CONTRIBUTORS
Johanes Jamil
Pemimpin Komunitas Orang Laut di Kawal, Kampung Masiran, Bintan
Johanes Jamil, yang lebih dikenal dengan nama Jembol, adalah keturunan generasi ketiga dari komunitas Orang Suku Laut yang menetap di Kawal, Bintan, dan saat ini menjabat sebagai kepala komunitas di Kampung Masiran. Ia memiliki hubungan yang erat dengan keluarga-keluarga Orang Laut di Bintan dan Lingga, serta meneruskan pengetahuan maritim, tradisi budaya, dan kepemimpinan komunitas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setelah menyelesaikan sekolah, Johanes menerima beasiswa untuk menempuh studi Pendidikan Agama dan Filsafat di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia kemudian kembali ke Bintan, dan pada tahun 2024 bergabung dengan Island Foundation sebagai fasilitator lokal yang mendukung pendidikan anak-anak. Dengan ketertarikan besar pada pembelajaran yang berakar pada budaya, Johanes percaya bahwa pendidikan seharusnya memperkuat pola pikir tanpa menghapus identitas. Saat ini, ia mengajar di berbagai pusat belajar di Bintan, sekaligus bekerja sebagai guru agama, pemain sepak bola yang antusias, dan penari yang berdedikasi.