Mempelajari Hutan-Hutan Kuno di Pesisir Pantai

Penelitian lapangan di kawasan mangrove Pulau Ubin. Foto oleh Lucas Koh. Foto oleh Lucas Koh.

Mempelajari Hutan-Hutan Kuno di Pesisir Pantai

Dr. Khairun Nisha adalah peneliti di Laboratorium Geomorfologi Terumbu Karang, Observatorium Bumi Singapura. Saat fajar menyingsing dan air laut sedang surut, ia memulai kerja lapangannya dengan mengumpulkan sampel tanah di hutanmangrove Pulau Ubin, Singapura. Ketika menceritakan penelitiannya kepada teman-temannya, ia sering ditanya, “Bukannya mangrove itu kotor? Banyak nyamuk?”, kenyataannya tidak. “Mangrove adalah salah satu ekosistem yang paling indah. Saat kita datang sekitar pukul lima pagi ketika air surut, suasananya tenang dan damai.”

Dr. Nisha melakukan penelitian lapangan di Mandai, Singapura. Foto oleh Lucas Koh.

Dr. Nisha melakukan penelitian lapangan di Mandai, Singapura. Foto oleh Lucas Koh.

Dr Nisha menyebut dirinya sejarawan lingkungan khusus sejarah hutan mangrove. Dengan menganalisis lapisan-lapisan sedimen kuno yang tertimbun di dalam tanah ribuan tahun, dia dapat menelusuri sejarah suatu lokasi hingga 10.000 tahun lalu, yaitu pada zaman Holosen (11.700 tahun lalu). Dari situ, bisa diketahui jenis-jenis mangrove yang pernah tumbuh serta bagaimana perubahannya berubah dari zaman ke zaman. Tanah mangrove yang unik, minim oksigen, asam, dan tinggi garam membuat sedimen ribuan tahun tetap terjaga.

Dr. Nisha fokus meneliti serbuk sari mangrove yang dilepaskan oleh pohon. These tiny sediments can range between 8 to 100 micrometers and can only be viewed under the laboratory microscope. Partikel kecil ini berukuran 8 hingga 100 mikrometer dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop laboratorium. Sebagai gambaran, lebar sehelai rambut manusia saja berukuran20 mikrometer.

Serbuk sari Sonneratia alba berukuran sekitar 0,04 mm. Foto oleh Dr Nisha.

Serbuk sari Sonneratia alba berukuran sekitar 0,04 mm. Foto oleh Dr Nisha.

Serbuk sari Rhizophora apiculata berukuran 0,01 mm. Foto oleh Dr Nisha.

Serbuk sari Rhizophora apiculata berukuran 0,01 mm. Foto oleh Dr Nisha.

Serbuk sari adalah bahan halus seperti bubuk yang dilepaskan oleh bunga jantan saat musim berbunga. Pada pohon mangrove, biasanya terjadi dua kali setahun, yaitu saat musim kemarau dan awal musim hujan. Pada pohon Rhizophora, biasanya terjadiantara bulan Mei hingga Juni, dan ada juga pada bulan November menurut penelitian. Setiap jenis mangrove melepaskan serbuk sari dengan cara berbeda; ada yang melalui ledakan kecil cepat, ada yang terbawa angin, dan ada pula yang dibantu hewan. Serbuk sari ini lalu pindah ke bunga betina untuk pembuahan hingga akhirnya terbentuk biji.

Dalam kerja lapangannya, Dr. Nisha menggunakan alat khusus yang disebut sediment auger untuk mengambil sampel tanah berbentuk silinder dari dalam tanah. Terkadang timnya menggali dengan kedalaman dua sampai tiga meter, bahkan lebih. Semakin dalam lapisan sedimen yang diambil, maka makin tua pula usianya.

Samples of soil cores (P18, P19, P20) retrieved from Kallang Way, Singapore, in 2025. P20 has many sand and organic layers, likely marking the onset of the beach or tidal flats along Singapore's southern coast. This transitions into P19, which is mainly organic clay, indicating presence of mangroves. P18 indicates where sea levels rose enough to submerge the area, which was why shells were identified in this sample. Foto oleh Dr Nisha.

Samples of soil cores (P18, P19, P20) retrieved from Kallang Way, Singapore, in 2025. P20 has many sand and organic layers, likely marking the onset of the beach or tidal flats along Singapore's southern coast. This transitions into P19, which is mainly organic clay, indicating presence of mangroves. P18 indicates where sea levels rose enough to submerge the area, which was why shells were identified in this sample. Foto oleh Dr Nisha.

Menggunakan sediment augur untuk menggali inti sedimen. Photo by Lucas Koh.

Menggunakan sediment augur untuk menggali inti sedimen. Photo by Lucas Koh.

Seiring naiknya air laut karena perubahan iklim di wilayah ini yang mengancam hutan mangrove di kawasan pesisir, penelitian Dr Nisha memberi kita pengetahuan bagaimana melindunginya.

“Di masa lalu, kita melihat pohon-pohon mangrove ini melewati masa pasang surut air laut dan perubahan iklim ekstrem. Dengan memahami pertumbuhannya dari zaman ke zaman, kita bisa melihat bagaimana mangrove mampu bertahan. Ini menjawab pertanyaan: jenis mangrove mana yang tahan terhadap pasang permukaan air laut pada zaman Holosen 10.000 tahun lalu? Jika jenis mangrove tersebut mampu bertahan, apakah artinya akan mampu bertahan 100 tahun ke depan sesuaipasangnya permukaan air laut?”

Penelitian Dr Nisha tidak hanya menunjukkan betapa kunonya sebagian hutan mangrove ini, tetapi juga menunjukkan bagaimana berbagai jenis mangrove merespons perubahan permukaan laut dan kondisi iklim di masa lalu. Dengan demikian, kitatahu bagaimana melindungi ekosistem mangrove di masa depan.

CONTRIBUTORS

Dr Khairun Nisha
Dr Khairun Nisha
Research Fellow at Earth Observatory of Singapore

Dr Nisha is a Research Fellow in the Coral Geomorphology Group at the Earth Observatory Singapore, NTU. She specializes in palaeoecology and geochemistry analyses of peat and sediment from different forests. Her research focuses on reconstructing past environmental and ecological changes using multi-proxy approaches, including pollen, charcoal, stable carbon and nitrogen isotopes, and geochronology indicators. Currently, her work investigates tipping points in Singapore’s mangrove ecosystems in response to Holocene sea-level changes. By integrating field observations, laboratory analyses, and quantitative data interpretation, her research aims to improve understanding of long-term coastal ecosystem dynamics and contribute to the conservation and restoration of mangrove.