Metode Transplantasi Karang yang Mudah bagi Masyarakat

Warga Desa Pengudang saat kegiatan Training of Trainer (ToT), belajar cara melakukan transplantasi karang, Pengudang Mangrove School, Pengudang, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia, 15 Februari 2025. Atas izin Henky Irawan.

Pak Henky Irawan adalah dosen di Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang. Projeknya fokus pada restorasi terumbu karang, tidak hanya secara ilmiah, tetapi juga dapat dipelajari, dibagikan, dan dipraktekkan oleh masyarakat setempat.

Pak Henky bersama peneliti lain di UMRAH telah mengembangkan metode transplantasi karang yang sederhana, praktis, dan dirancang untuk melibatkan masyarakat setempat. Melalui program Training of Trainers (ToT) di Desa Pengudang (timur laut Bintan), warga diajarkan bagaimana melakukan restorasi karang secara mandiri menggunakan “paving block” kecil yang mudah dibawa. Metode ini dikembangkan dengan tujuan menjadi kegiatan ekowisata di masa depan.

Dalam video tersebut, Pak Henky menjelaskan cara kerja metode ini.

Pak Henky Irawan sedang menjelaskan metode transplantasi karang.

Demonstration of how mangroves can act as natural coastal

Dengan menggunakan paving block berbentuk heksagonal sebagai dasar, warga menempelkan potongan karang kecil berukuran 5 sentimeter di atasnya. Potongan karang ini biasanya diambil dari jenis karang Acropora, yang tumbuh lebih cepat dan biasa ditemukan di wilayah tersebut. Setelah siap, paving block diangkut menggunakan perahu dan diserahkan kepada penyelam yang bertugas menempatkannya ke dasar laut.

Metode ini dirancang mudah diterapkan karena paving block gampang dipakai dan dapat dipersiapkan di darat, sehingga siapa saja tua dan muda dapat mencobanya. Pak Henky juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda, khususnya Gen Z, karena berperan penting menjaga konservasi pesisir ke depan.

Karang perlu selalu dipantau dengan melihat perubahan ukuran dan warnanya. Karang yang sehat akan mempertahankan warnanya dan terus tumbuh besar yang artinya restorasi berjalan dengan baik.

Di wilayah dengan arus dan gelombang yang lebih besar, Pak Henky dan timnya juga sedang bereksperimen dengan struktur yang lebih besar, yaitu blok yang lebih berat berukuran satu meter agar lebih stabil di dasar laut. Ia mengibaratkannya seperti Lego berukuran besar, yang dirancang tahan terhadap pergerakan air dan membantu pertumbuhan karang.

Dengan cara yang mudah bagi masyarakat seperti ini, pemulihan terumbu karang tidak lagi soal tekniknya tetapi sudah menjadi aktivitas bersama yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan praktik sehari-hari warga, sekaligus menjaga lingkungan secara bersama.

Alat dan bahan yang digunakan untuk transplantasi karang, termasuk fragmen karang yang telah disiapkan untuk ditempelkan, saat kegiatan Training of Trainer (ToT), Pengudang Mangrove School, Pengudang, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia, 15 Februari 2025. Atas izin Henky Irawan.

Tumpukan paving block berbentuk heksagonal yang digunakan sebagai dasar untuk menempelkan fragmen karang sebelum transplantasi, digunakan saat kegiatan Training of Trainer (ToT), Pengudang Mangrove School, Pengudang, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia, 15 Februari 2025. Atas izin Henky Irawan.

Pak Henky Irawan dan Pak Iwan Winarto sedang menjelaskan penggunaan alat dan bahan saat kegiatan Training of Trainers (ToT) di Pengudang Mangrove School, Pengudang, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia, 15 Februari 2025. Atas izin Henky Irawan.

Peserta dari desa sedang menempelkan fragmen karang pada substrat paving block sebagai bagian dari proses restorasi, saat kegiatan Training of Trainers (ToT) di Pengudang Mangrove School, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia, 15 Februari 2025. Atas izin Henky Irawan.

Seorang warga sedang menggunakan gergaji bundar mini untuk memotong fragmen pendek dari karang hidup, saat kegiatan Training of Trainers (ToT) di Pengudang Mangrove School, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia, 15 Februari 2025. Atas izin Henky Irawan.

Seorang warga sedang menunjukkan bagian tengah paving block tempat paku akan dipasang, saat kegiatan Training of Trainers (ToT) di Pengudang Mangrove School, Teluk Sebong, Bintan, Indonesia, 15 Februari 2025. Atas izin Henky Irawan.

Kontributor

Henky Irawan
Henky Irawan
Ilmuwan kelautan dan dosen di Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang

Henky Irawan adalah ilmuwan kelautan dan dosen di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Indonesia, dengan pengalaman lebih dari satu dekade dalam inovasi budidaya perairan dan pengelolaan ekosistem pesisir. Karyanya berfokus pada pengembangan budidaya perairan restoratif, yang mengintegrasikan restorasi ekologis dengan sistem produksi yang berkelanjutan. Ia telah memimpin berbagai penelitian tentang mangrove, lamun, terumbu karang, serta spesies bernilai ekonomi penting seperti kerapu dan rumput laut. Penelitian tersebut menghasilkan berbagai inovasi penting, termasuk perbanyakan mangrove secara hidroponik dan struktur terumbu buatan yang dirancang untuk mendukung pemulihan ekosistem. Penelitian Henky menghubungkan praktik budidaya perairan dengan strategi karbon biru, konservasi keanekaragaman hayati, dan ketahanan pesisir berbasis masyarakat. Ia secara aktif mendorong pendekatan berbasis ekosistem yang dapat memperkuat pemulihan habitat sekaligus mendukung mata pencaharian masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan Indonesia. Dengan latar belakang akademik dan kepemimpinan yang kuat, ia turut berperan dalam menjembatani ilmu pengetahuan, kebijakan, dan pelaksanaan di tingkat masyarakat.