Dr Shaw doing field work in Pulau Ubin, Singapore, March 2025. Photo by Dr Shaw.
Dr. Timothy Shaw adalah ilmuwan lahan basah dan peneliti senior di Observatorirum Bumi Singapore. Ia mengumpulkan sedimen (lapisan lumpur dan pasir), terutama dari hutan mangrove di Asia Tenggara, lalu usia sedimen tersebut diteliti dilaboratorium. Dari situ, ia bisa mengetahui bagaimana kondisi permukaan laut di masa lalu, jenis mangrove yang dulu tumbuh, serta memprediksi bagaimana hutan mangrove merespons perubahan pasang surut permukaan laut di masa depan.
Hutan mangrove hidup di wilayah yang disebut zona pasang-surut. Artinya, daerah ini bukan sepenuhnya daratan dan bukan juga sepenuhnya laut, melainkan area yang dipengaruhi pasang-surutnya air laut dua kali sehari. Di Singapura, saat air pasang, ketinggian air bisa mencapai sekitar 3,5 meter, mirip dengan pola pasang surut di pesisir timur Bintan. Saat air laut pasang, akar mangrove akan terendam air. Ketika air laut surut, akar-akar tersebut kembali terlihat. Karena letaknya dekat laut, hutanmangrove sangat dipengaruhi oleh perubahan pasang-surutnya permukaan laut setiap saat.
The coastal landscape holds clues to help us understand how sea level has changed over time, including here, fossil oysters encrusted onto rocks in Chek Jawa, Singapore. March 2026. Photo by Dr Shaw.
The coastal landscape holds clues to help us understand how sea level has changed over time, including here, fossil oysters encrusted onto rocks in Chek Jawa, Singapore. March 2026. Photo by Dr Shaw.
Dr. Shaw menjelaskan bahwa ada hubungan kuat antara pasang surut air laut dan terbentuknya hutan mangrove. Dalam kondisi alami, mangrove bisa menyesuaikan diri dengan pasang laut karena adanya tumpukan sedimen yang membentuk tanah di wilayah pasang-surut.
Namun, jika permukaan laut naik terlalu cepat sebagaimana kondisi saat ini dan dikhawatirkan banyak ilmuwan di seluruh dunia, maka mangrove bisa kesulitan beradaptasi dan risiko “tenggelam”. Saat ini, permukaan laut naik sekitar 4 milimeter per tahun. Ke depan, diperkirakan bisa mencapai 7 hingga 8 milimeter per tahun sebelum akhir abad ini.
“Dalam kondisi alami, saat permukaan laut naik, hutan mangrove biasanya “berpindah” ke arah daratan, selama tidak ada penghalang. Namun, tata kota kita saat ini seperti pembangunan di Singapura menghambat pergerakan mangrove ke daratan. Akibatnya, mangrove terjebak tanpa ruang untuk tumbuh. Fenomena ini disebut coastal squeeze atau “terjepitnya wilayah pesisir”.
Intertidal environments such as this mangrove forest in Matang Biosphere Reserve, Malaysia, provide a multitude of ecosystem services. However, increasing sea levels and anthropogenic pressures threaten their survival. March 2026. Photo by Dr Shaw.
Intertidal environments such as this mangrove forest in Matang Biosphere Reserve, Malaysia, provide a multitude of ecosystem services. However, increasing sea levels and anthropogenic pressures threaten their survival. March 2026. Photo by Dr Shaw.
Kondisi ini terjadi ketika air laut yang naik mendorong mangrove dari arah laut, sementara pembangunan seperti jalan raya, tembok laut, atau pembangunan di daerah pesisir, menahannya dari daratan. Lama-kelamaan, ruang hidup mangrove semakinsempit hingga akhirnya tidak ada lagi ruang untuk tumbuh.
Selain itu, aktivitas manusia di kawasan pesisir juga memengaruhi pergerakan dan penumpukan sedimen di air. Lalu lintas kapal besar dan kegiatan reklamasi bisa mengganggu aliran sedimen. Padahal, mangrove sangat bergantung pada penumpukansedimen untuk membentuk tanah tempatnya tumbuh. Jika pasokan sedimen berkurang dan ruang gerak terbatas, mangrove bisa perlahan tenggelam di bawah permukaan laut.
Penelitian Dr. Shaw tentang kenaikan permukaan laut dan analisis sedimen sangat penting sebagai dasar perencanaan ke depan dalam menghadapi perubahan yang diperkirakan terjadi pada ekosistem pesisir ini. Data penelitiannya membandingkannaiknya penumpukan sedimen mangrove dengan naiknya permukaan laut untuk memprediksi kondisi mangrove di masa depan. Dengan memahami bagaimana mangrove bertahan terhadap pasang-surut permukaan laut di masa lalu dan caranyaberadaptasi saat ini, pemerintah dan ilmuwan dapat merencanakan langkah-langkah yang tepat, agar hutan mangrove bisa bertahan bagi generasi mendatang. Top of Form
Kondisi ini terjadi ketika air laut yang naik mendorong mangrove dari arah laut, sementara pembangunan seperti jalan raya, tembok laut, atau pembangunan di daerah pesisir, menahannya dari daratan. Lama-kelamaan, ruang hidup mangrove semakinsempit hingga akhirnya tidak ada lagi ruang untuk tumbuh.
Selain itu, aktivitas manusia di kawasan pesisir juga memengaruhi pergerakan dan penumpukan sedimen di air. Lalu lintas kapal besar dan kegiatan reklamasi bisa mengganggu aliran sedimen. Padahal, mangrove sangat bergantung pada penumpukansedimen untuk membentuk tanah tempatnya tumbuh. Jika pasokan sedimen berkurang dan ruang gerak terbatas, mangrove bisa perlahan tenggelam di bawah permukaan laut.
Penelitian Dr. Shaw tentang kenaikan permukaan laut dan analisis sedimen sangat penting sebagai dasar perencanaan ke depan dalam menghadapi perubahan yang diperkirakan terjadi pada ekosistem pesisir ini. Data penelitiannya membandingkannaiknya penumpukan sedimen mangrove dengan naiknya permukaan laut untuk memprediksi kondisi mangrove di masa depan. Dengan memahami bagaimana mangrove bertahan terhadap pasang-surut permukaan laut di masa lalu dan caranyaberadaptasi saat ini, pemerintah dan ilmuwan dapat merencanakan langkah-langkah yang tepat, agar hutan mangrove bisa bertahan bagi generasi mendatang. Top of Form
CONTRIBUTORS
Dr Timothy Shaw
Senior Research Fellow at Earth Observatory of Singapore
Dr Timothy Shaw is a Senior Research Fellow at the Earth Observatory of Singapore, Nanyang Technological University with more than 10 years experience in sea-level and coastal environmental change research working in the United Kingdom, United States and now Singapore. His research focuses on investigating intertidal environments such as mangrove forests to reconstruct and understand how and why sea level has changed in the past which provides an important foundation for understanding how coastal ecosystem may respond to future sea-level rise over the 21st century and beyond.