Catatan tentang Pesisir yang Terus Berubah: Hidup Berdampingan dengan Karang “Zombie”

Mikroatol di Tanjong Rimau, Sentosa. Atas izin Zarina Muhammad.

Bagaimana pandangan kita kalau melihat sejarah lingkungan tidak hanya dari cerita manusia, tetapi juga dari pasang surut, karang, sedimen, dan unsur alam lainnya yang aktif membentuk dunia? Yang perlahan mencatat perubahan dan menjadi saksi sepanjang zaman di wilayah pertemuan antara darat dan laut.

Pertama kali saya menemukan mikroatol karang di pesisir selatan Singapura. Sekilas, benda berbentuk lingkaran yang tertanam di zona pasang surut seperti di Tanjong Rimau dan Pulau Sekijang Pelepah (Pulau Lazarus) ini tampak biasa saja, bahkan tidak nampak hidup. Saya pun, dengan lembut, menamainya “karang zombie”, merasakan, sebelum mengetahui istilah lainnya, seperti makhluk yang berada di antara dua alam dibentuk oleh pertumbuhan sekaligus gangguan alam.

Mikroatol tumbuh menyamping, sementara ke atas dibatasi oleh naik-turunnya permukaan laut. Saat terpapar udara ketika air surut, pertumbuhannya terhenti, saat kembali terendam, kembali tumbuh. Seiring waktu, permukaannya menyimpan jejak perubahan yang terus berulang. Bentuknya menjadi catatan diam terhadap perubahan lingkungan. Saya selalu tertarik pada bentuk-bentuk seperti ini, yaitu benda dan makhluk yang tersembunyi di depan mata, selalu diabaikan sampai kita mempelajarinya dengan cara berbeda. Bagi ilmuwan, mikroatol adalah cara mengetahui perubahan permukaan laut dan pergerakan tektonik. Sebenarnya di lapangan, mikroatol tidak hanya sekedar data. Kita bisa membaca potensi pasang surut dari permukaan mikroatol yang memberitahu kita perubahan waktu, pola iklim, dan cuaca.

Mikroatol di Tanjong Rimau, Sentosa. Atas izin Zarina Muhammad.

Mikroatol di Tanjong Rimau, Sentosa. Atas izin Zarina Muhammad.

Mikroatol close-up. Atas izin Zarina Muhammad.

Mikroatol close-up. Atas izin Zarina Muhammad.

Ketertarikan saya pada mikroatol muncul ketika saya bekerja di pesisir selatan Singapura, terutama di Tanjong Rimau, dan kawasan kepulauan di sekitarnya seperti Pulau Sekijang Bendera (Pulau St. John), Pulau Sekijang Pelepah (Pulau Lazarus), dan Terumbu Pandan (Cyrene Reef). Di wilayah yang dibentuk oleh sejarah kolonial, perubahan infrastruktur, dan kondisi ekologi yang rentan ini, mikroatol menjadi arsip sekaligus lawan bicara cara untuk membaca lingkungan. Mikroatol merekam perubahan lingkungan dalam jangka waktu panjang, sekaligus menjadi pusat perhatian berabad-abad, bisa dirasakan, dan saling berhubungan. Menghabiskan waktu bersama mikroatol berarti mempelajarinya tidak dari sekadar data, tetapi benar-benar meresapinya berulang kali, hingga cara pandang kita ikut berubah.

Perbedaan antara pendekatan ilmiah dan melihat dengan cara yang lain adalah inti fokus pekerjaan saya. Bekerja di wilayah yang terus berubah ini harus menggunakan cara yang berbeda yaitu melibatkan indera, tidak utuh, dan kolaboratif. Pekerjaan ini terhantung pada gesekan, ketidakjelasan, dan pengaruh alam. Artinya kita melihat bumi bukan sebagai sumber daya semata, tetapi sebagai pembimbing. Lalu, apa yang terjadi kalau kita mengandalkan rasa manusiawi agar kebiasaan kita memandang alam berubah?

Pertanyaan ini terus berlanjut dalam karya instalasi dan video saya, Dioramas for Tanjong Rimau, yang ditampilkan dalam pameran Lonely Vectors di Singapore Art Museum pada tahun 2022. Saya pertama kali mengetahui Tanjong Rimau di tahun 2021, saat berjalan di zona pasang surut. Rupanya, tempat ini bukan sekedar pemandangan, tetapi tempat yang padat akan sejarah, keberadaan sesuatu, dan jejak perubahan yang halus.

Karya saya tersebut lahir dari keinginan untuk tetap berada dalam pengalaman itu. Berdialog dengan tempat yang menyimpan arsip kehilangan dan penghapusan ekologi dan hal-hal yang masih tersisa.

Menarik rasanya, melalui program STAR Residencies, saya kembali ke Tanjong Rimau, kali ini berdialog dengan para ilmuwan yang meneliti mikroatol karang di sana. Yang awalnya pengalaman intuisi berkembang menjadi pengetahuan baru, di mana pengamatan ilmiah dan pengalaman inderawi bertemu. Kembali ke tempat ini bukan kebetulan, melainkan lanjutan dari “panggilan” tempat itu sendiri.

Mikroatol terlihat saat berjalan di zona intertidal. Atas izin Zarina Muhammad.

Mikroatol terlihat saat berjalan di zona intertidal. Atas izin Zarina Muhammad.

Zarina Muhammad dan para peneliti dari NTU Earth Observatory of Singapore saat survei intertidal di Tanjong Rimau. Foto oleh Hadi Ikhsan. Atas izin Earth Observatory of Singapore.

Zarina Muhammad dan para peneliti dari NTU Earth Observatory of Singapore saat survei intertidal di Tanjong Rimau. Foto oleh Hadi Ikhsan. Atas izin Earth Observatory of Singapore.

Tanjong Rimau adalah lokasi yang menyimpan lapisan sejarah perjalanan dan perpecahan. Terletak di ujung selatan daratan, bertemu sisi barat laut Sentosa, kawasan ini merupakan pintu masuk ke Selat Singapura Lama, jalur maritim kuno yang dilalui pelaut berabad-abad. Pantai berbatu dan gua di tebing yang masih ada akan terlihat beberapa jam ketika air surut sebelum kembali ditelan laut. Batu Berlayar, atau “Dragon Tooth’s Gate”, dulunya berdiri di sini sebagai penanda navigasi, sebelum dihancurkan Inggris pada tahun 1848 untuk merubah wajah Singapura dengan meratakan bukit, mengalihkan aliran sungai, dan mengubah garis pantai melalui eksploitasi dan reklamasi. Jejak sejarah ini masih tersimpan di lokasi tersebut, meskipun tidak selalu terlihat. Kini, keberadaan mikroatol menambah hal baru, mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan sejarah panjang pesisir yang terus berubah.

Di berbagai lokasi yang saling terhubung ini baik hamparan pasang surut di Terumbu Pandan maupun ekologi pulau seperti Pulau Sekijang Bendera, Pulau Sekijang Pelepah, dan Pulau Ujong, keinginan memahami lanskap tidak bisa melalui satu cara saja melainkan dari sejarah pergerakan, perpindahan, berbagai sistem pengetahuan, dan imajinasi alam. Di wilayah ini, darat dan laut seharusnya dipahami sebagai sesuatu yang hidup, saling terhubung, dan terus berubah. Mikroatol menjadi bagian dari ini, sehingga menunjukkan perubahan lingkungan dalam skala waktu yang panjang, sekaligus mengingatkan kita akan keterbatasan persepsi manusia. Bekerja dengan “karang zombie” ini memperlihatkan dunia dengan cara berbeda yaitu dengan memperhatikan jejak yang terukir seiring waktu, pengetahuan terbatas, dan peran makhluk selain manusia yang saling berinteraksi.

Bukan cuma soal apa yang bisa kita ketahui, tapi juga bagaimana kita menempatkan diri terhadap hal-hal yang belum kita pahami yang mungkin baru terasa ketika kita membiarkan seluruh tubuh ikut mendengarkan.

Kontributor

Zarina Muhammad
Zarina Muhammad
Seniman, pendidik, dan peneliti yang berbasis di Singapura

Zarina Muhammad adalah seniman, pendidik, dan peneliti yang praktik interdisiplinernya bergerak melintasi performance, instalasi, gambar bergerak, suara, teks, dan perjumpaan partisipatif. Karyanya secara kritis meninjau kembali sejarah lisan, literatur etnografi, dan narasi historiografis Asia Tenggara, dengan menelusuri keterkaitan antara kosmologi ekokultural, historiografi yang dihantui, pembentukan mitos, dan lanskap yang memiliki daya spiritual-geologis. Melalui riset jangka panjang dan lintas lokasi, ia meneliti bagaimana mitos, ritual, perubahan lingkungan, geologi, sistem cuaca, dan bentuk-bentuk pengindraan yang berwujud membentuk cara-cara kontemporer dalam mengetahui dan menghuni dunia. Dengan bergerak di antara metodologi artistik, ilmiah, dan spiritual, praktiknya mempertemukan penyelidikan berbasis lapangan, pertukaran kolaboratif, eksperimen material, dan proses relasional yang hidup. Proyek-proyek terbarunya bergerak di antara data dan divinasi, dengan merangkai sistem monsun, sejarah kapal karam, teater ritual, lanskap spectral, dan arsip ekologis untuk mempertimbangkan bagaimana dunia dirasakan, diingat, dan terus-menerus dibentuk kembali. Karyanya telah dipresentasikan secara internasional di berbagai institusi dan biennale, termasuk Gwangju Biennale ke-15, Kochi-Muziris Biennale, Diriyah Contemporary Art Biennale, Lahore Biennale, dan Singapore Biennale. Ia merupakan penerima IMPART Art Prize 2022 dan berpartisipasi dalam program perdana STAR Residencies yang diselenggarakan oleh NTU Centre for Contemporary Art Singapore dan Earth Observatory of Singapore.