Kak Wa Ode Masnia menyiapkan hidangan penutup dodol di Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Atas izin NTU CCA Singapura.
Membuat Makanan Penutup Dodol dengan Bibit Mangrove
Kami menyaksikan Kak Nya, seorang perempuan dari Desa Pengudang, Bintan, mengeluarkan keranjang berisi benda-benda kecil panjang berwarna hijau kecokelatan, mirip kacang panjang. Benda tersebut dipanen beberapa hari sebelumnya untuk ditunjukkan kepada kami cara membuat dodol, hidangan manis tradisional yang lembut dan kenyal, resep turun temurun neneknya. Kak Nya menyebutnya “buah” Secara botani, ini bukanlah buah-buahan biasa. Ini adalah propagul dari pohon bakau yang ia kenal sebagai beboros.
Bibit pohon beboros direndam sebelum dimasak. Maret 2026. Atas azin NTU CCA Singapore.
Bibit pohon beboros direndam sebelum dimasak. Maret 2026. Atas azin NTU CCA Singapore.
Kue tradisional terakhir yang dikenal sebagai dodol. Ini adalah perpaduan manis dari bibit beboros, gula merah, tepung beras, yang diberi aroma harum daun pandan. Atas izin NTU CCA Singapore.
Kue tradisional terakhir yang dikenal sebagai dodol. Ini adalah perpaduan manis dari bibit beboros, gula merah, tepung beras, yang diberi aroma harum daun pandan. Atas izin NTU CCA Singapore.
Kak Nya belajar cara mengolah propagul menjadi dodol dari neneknya. Setelah mengupas kulit kulitnya, dipotong lalu dihaluskan hingga menjadi adonan kasar berwarna kekuningan. Kemudian, dengan campuran gula, daun pandan, santan, dan tepung, propagul tersebut dimasak sampai menjadi adonan yang kental dan lengket. Ia bercerita bahwa dulu ia sempat terkejut ketika neneknya menunjukkan bahwa “buah” ini ternyata bisa dimakan. Propagul ini panen mulai November hingga Januari setiap tahun. Saat air laut surut, ia pergi ke hutan mangrove bersama suaminya untuk panen. Dari warnanya, Kak Nya tahu kalau propagulnya bisa dipetik atau belum.
Simak cerita dari Kak Nya dalam video di bawah ini tentang bagaimana ia belajar membuat dodol menggunakan pohon beboros dari neneknya, dan bagaimana ia terus menyiapkan makanan penutup tradisional yang manis ini hingga saat ini.
Video Interview with Wa Ode Masnia
Kak Nya memanen “buah” ini dari pohon beboros, atau bahasa ilmiahnya disebut Bruguiera cylindrica. Saat ini ada enam jenis Bruguiera, dan semuanya ada di Asia Tenggara. Salah satunya jenisnya, Bruguiera hainesii, pohon mangrove yang sangat langka di dunia dan hanya ada empat pohon saja di Singapura. Pohon beboros yang sudah dewasa bisa tumbuh tinggi mencapai 20 meter. Kita bisa membedakan pohon Bruguiera dengan pohon mangrove lainnya dariakarnya yang memanjang cukup jauh dan terlihat bertekuk-tekuk seperti beruas.
Bruguiera gymnorrhiza berakar seperti lutut di hutan bakau di Desa Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Atas izin NTU CCA Singapura.
Bruguiera gymnorrhiza berakar seperti lutut di hutan bakau di Desa Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Atas izin NTU CCA Singapura.
Pohon mangrove tumbuh di lingkungan yang menantang, seperti kadar garam yang tinggi dan tanah yang tergenang air hingga dua kali sehari. Pohon mangrove tumbuh di lingkungan yang menantang, seperti kadar garam yang tinggi dan tanah yang tergenang air hingga dua kali sehari. Untuk menghadapi kondisi ini, beberapa jenis mangrove punya cara khusus agar bijinya tetap bisa tumbuh dengan baik, meski tanahnya tidak stabil. Cara ini disebut vivipari, yaitu ketika biji mulai tumbuh menjadi kecambah saat masih menempel di pohon induknya, setelah bunganya dibuahi. Kecambah ini disebut propagul. Karena sudah mulai tumbuh sejak di pohon, propagul ini jadi lebih siap bertahan hidup ketika akhirnya lepas. Setelah jatuh, propagul akan terbawa arus pasang surut air laut, kadang sampai jauh, hingga menemukan tempat yang cocok untuk menancap dan tumbuh di tanah.
Propagul dari Bruguiera gymnorrhiza, kerabat dari B. cylindrica, di hutan bakau di Desa Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Atas izin NTU CCA Singapore.
Propagul dari Bruguiera gymnorrhiza, kerabat dari B. cylindrica, di hutan bakau di Desa Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Atas izin NTU CCA Singapore.
Today, Kak Nya and a few other women in Pengudang Village run cooking workshops with mangrove trees as one of the eco-tourism offerings. These workshops offer an alternative source of livelihood for these women, while supporting the continued transmission of intergenerational knowledge and practices with these mangrove trees.
KONTRIBUTOR
Wa ode Masnia
Member of Pengudang Village, Teluk Sebong, Bintan
Kak Wa ode Masnia has been living in Pengudang since she was young. She is part of a group of women running eco-tourism activities, such as cooking workshops, to tourists. Her specialty is the dodol dessert, a recipe she learnt from her grandmother.