What are Mangroves?

Replanted mangrove trees at Pengudang, Teluk Sebong, Bintan Regency. Courtesy NTU CCA Singapore.

Apa itu mangroves?

Mangrove atau hutan bakau merupakan hutan pasang surut yang tumbuh di kawasan pesisir tropis dan subtropis. Ekosistem ini menjadi habitat bagi lebih dari 1.500 spesies tumbuhan dan hewan. Hutan mangrove memilikikeanekaragaman hayati yang sangat melimpah, terutama di Asia Tenggara yang menjadi habitat bagi sepertiga hutan mangrove di dunia..


Beragam jenis hewan hidup di hutan pasang surut yang unik ini. Tiram menempel pada akar pohon dengan mengeluarkan semacam perekat alami, lalu membentuk terumbu tiram yang membantu menyaring air keruh. Krustaseaseperti kepiting menggali lubang di tanah mangrove untuk berlindung dari predator sehingga membantu meningkatkan kadar oksigen di dalam tanah. Banyaknya biota laut di kawasan ini juga menarik beragam jenis burung, seperti raja udang, kuntul, dan burung pengembara lainnya. Sementara itu, di dalam tanah, ada mikroorganisme yang disebut jamur mikoriza yang hidup bersama akar mangrove dan membantu pohon menyerap nutrisi denganlebih baik.

Pohon-pohon yang tumbuh di kawasan ini menghadapi kondisi lingkungan yang unik, seperti terendam air laut dua kali sehari, tanah yang minim oksigen, kadar garam yang tinggi, serta ancaman bencana alam seperti banjir dan tsunami di beberapa wilayah. Untuk beradaptasi, mangrove memiliki kemampuan khusus, seperti akar yang dapat bernapas di atas permukaan air, daun yang mampu membuang kelebihan garam, serta bibit muda yang disebutpropagul yang sudah mulai tumbuh di pohon induknya sebelum jatuh ke tanah sehingga dapat hidup dengan mudah.

Pohon Bakau Biasa

Pertumbuhan setiap jenis mangrove dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ketinggian permukaan tanah, kondisi tanah, dan air pasang. Karena itu, setiap jenis mengrove biasanya tumbuh di kawasan tertentu yang paling cocok. Berdasarkan laporan State of the Mangroves 2024, ada 82 jenis mangrove di dunia.

Kita dapat mengenali beragai jenis mangrove dengan mudah. Misalnya, dari bentuk akarnya yang unik yang membantunya menyesuaikan diri dengan pasang dan surut air. Cara lainnya dari bentuk serta warna bibit mudanya(propagul) yang sudah tumbuh di pohon sebelum jatuh dan terbawa arus air ke tempat lain.

Nypa fruticans in mangrove river channel in Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Courtesy of NTU CCA Singapore.

Nypa fruticans atau nipah merupakan satu-satunya jenis palem yang tumbuh di hutan mangrove. Tumbuhan ini termasuk salah satu spesies palem tertua,yang dari fosilnya menunjukkan usianya sejak 65–70 juta tahun lalu.

Bagi masyarakat Orang Laut di Kawal, Bintan, pohon nipah ini memiliki makna spiritual sebagai perantara bagi masyarakat untuk berhubungan dengan para leluhur mereka.

Sonneratia alba (front) on the shoreline of Pengudang Beach, Teluk Sebong, Bintan, next to another mangrove tree known as the Avicennia sp. Courtesy of NTU CCA Singapore.

Pohon S. alba dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 30 meter saat sudah dewasa.
Akar-akarnya yang mencuat ke atas membantu pohon ini bernapas saat air pasang menutupi kawasan sekitarnya. Jika diperhatikan lebih dekat, bentuk akarnya seperti kerucut dan berukuran cukup tebal. Buahnya berbentukbulat berwarna hijau, dan dapat dipetik untuk diolah menjadi minuman.

Young Rhizophora mucronata trees planted along a mangrove river in Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Courtesy NTU CCA Singapore.

R. mucronata merupakan salah satu jenis mangrove yang umum ditemukan di Bintan dan Singapura. Di beberapa lokasi, pohon ini dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 15 meter. Akar tunjangnya membantu pohon tetap kokohdi tanah yang mudah bergeser, sehingga mampu tumbuh baik di zona tepi laut maupun zona tengah kawasan mangrove.

Tunas muda R. mucronata dapat dikonsumsi, sementara kulit batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami. Jenis ini juga menjadi bibit utama yang dibudidayakan di kebun mangrove Desa Pengudang, Bintan, dan ditanam oleh Orang Laut di Kawal.

Brugiera gymnorhiza tree on a muddy riverbank in Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Courtesy NTU CCA Singapore.

Di beberapa tempat, B. gymnorhiza dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 30 meter, meskipun banyak juga ditemukan pohon dengan ukuran yang lebih kecil.

Akarnya menyerupai lutut yang tertekuk; muncul dari permukaan tanah, melengkung pada bagian tertentu, lalu masuk kembali ke dalam tanah. Propagul pohon ini dapat diolah menjadi tepung yang kemudian digunakan untuk membuat kue tradisional, yaitu aneka kudapan berbahan dasar tepung yang umum dijumpai di Asia Tenggara.

References:

1. United Nations Environment Programme. 2023. Decades of mangrove forest change: what does it mean for nature, people and the climate? UNEP, Nairobi. https://wedocs.unep.org/rest/api/core/bitstreams/a3752f43-79e6-48ba-a911-3f39a26013cc/content.

2. Jia, Mingming, et al. “Mapping Global Distribution of Mangrove Forests at 10-m Resolution.” Science Bulletin [Netherlands], vol. 68, no. 12, June 2023, pp. 1306–16, https://doi.org/10.1016/j.scib.2023.05.004.

3. The State of the World’s Mangroves 2024. July 2024, www.mangrovealliance.org/wp-content/uploads/2024/07/SOWM-2024-HR.pdf, https://doi.org/10.5479/10088/119867.

Further Resources:

[IMAGE] Mangrove Trees Identification Guidesheet by Dr JWH Wong
[VIDEO] Mangrove dan Sejuta Manfaatnya
[BOOK] Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia