Mendengarkan Terumbu Karang: Bagaimana Suara Mengungkap Kehidupan Karang

Udang sentadu snowflake (snowflake snapping shrimp). Foto oleh Lu i-chi melalui iNaturalist, berlisensi CC BY 4.0. Dokumentasi milik Lu i-chi. http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/?ref=openverse.

Mendengarkan Terumbu Karang: Bagaimana Suara Mengungkap Kehidupan Karang

Di pesisir Bintan, sebagian orang percaya bahwa suara gemeretak yang terdengar di bawah air berasal dari gurita. Ada pula yang mengira suara tersebut dihasilkan langsung oleh terumbu karang. Namun, setelah diteliti lebih saksama oleh para ilmuwan, suara tersebut ternyata berasal dari sesuatu yang berbeda.

Ternyata, sebagian besar suara tersebut berasal dari hewan kecil bernama udang sentadu (snapping shrimp).

Udang pistol atau udang sentadu (pistol shrimp/snapping shrimp). Foto oleh Hannah Walton melalui iNaturalist, berlisensi CC0 1.0. Dokumentasi milik Hannah Walton. http://creativecommons.org/publicdomain/zero/1.0/?ref=openverse.

Udang pistol atau udang sentadu (pistol shrimp/snapping shrimp). Foto oleh Hannah Walton melalui iNaturalist, berlisensi CC0 1.0. Dokumentasi milik Hannah Walton. http://creativecommons.org/publicdomain/zero/1.0/?ref=openverse.

Terumbu karang bukanlah tempat yang sunyi. Lingkungan ini dipenuhi bunyi klik, letupan, dan suara gemeretak yang dihasilkan oleh ikan maupun hewan avertebrata. Di antara penghuni yang paling bising adalah udang sentadu, hewan kecil berukuran hanya beberapa sentimeter, tetapi mampu menghasilkan suara yang sangat kuat.

Dengarkan klip audio berikut untuk mendengar suara gemeretak khas yang dihasilkan udang sentadu di terumbu karang.

Udang ini menghasilkan bunyi “jentikan” khas dengan menutup salah satu capitnya secara cepat hingga membentuk gelembung kecil yang hampir seketika pecah. Pecahnya gelembung tersebut menghasilkan suara tajam dan keras yang mampu mendominasi lingkungan akustik seluruh terumbu. Energi yang dihasilkan dari setiap jentikan bahkan begitu besar sehingga suhu di dalam gelembung sesaat dapat menyamai suhu permukaan matahari. Ketika ribuan udang sentadu aktif secara bersamaan, gabungan suara jentikan mereka membentuk bunyi gemeretak terus-menerus yang menjadi ciri khas kehidupan terumbu karang. Keseluruhan bunyi ini membentuk apa yang disebut ilmuwan sebagai soundscape terumbu, yakni lanskap suara yang mencerminkan kehidupan dan aktivitas di dalam ekosistem terumbu. Teknologi sonar yang sebelumnya terbukti andal di berbagai lingkungan suara lain ternyata dapat gagal digunakan di perairan Singapura karena kuatnya dominasi bunyi jentikan udang tersebut.

Udang sentadu karang. Foto oleh Rafi Amar melalui iNaturalist, berlisensi CC BY-NC 4.0. Dokumentasi milik Rafi Amar. http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/?ref=openverse.

Udang sentadu karang. Foto oleh Rafi Amar melalui iNaturalist, berlisensi CC BY-NC 4.0. Dokumentasi milik Rafi Amar. http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/?ref=openverse.

Bagi para ilmuwan, suara-suara tersebut bukan sekadar suara latar belakang. Bunyi itu menjadi cara untuk memahami apa yang terjadi di bawah permukaan laut.

Dr Hari Vishnu bersama rekan-rekannya, Prof Mandar Chitre dan Teong Beng Koay, peneliti akustik kelautan di Acoustic Research Laboratory, National University of Singapore, mempelajari lautan melalui suara dengan metode yang dikenal sebagai Passive Acoustic Monitoring (PAM). Berbeda dengan metode yang mengirimkan sinyal secara aktif ke dalam air, PAM mengandalkan mikrofon bawah air yang disebut hidrofon. Perangkat ini ditempatkan di bawah air, terkadang di dasar laut, untuk merekam secara terus-menerus suara alami lingkungan laut dalam jangka waktu panjang.

Dr Hari Vishnu sedang memegang hidrofon dan sebuah robot. Singapura, 26 April 2026. Dokumentasi milik Hari Vishnu.

Dr Hari Vishnu sedang memegang hidrofon dan sebuah robot. Singapura, 26 April 2026. Dokumentasi milik Hari Vishnu.

Dalam penelitian di kawasan terumbu karang Singapura, perangkat-perangkat tersebut dipasang selama berbulan-bulan untuk merekam lanskap suara terumbu karang. secara berkelanjutan, mulai dari suara ikan, mamalia laut, hingga bunyi jentikan udang yang terus-menerus terdengar. Seiring waktu, laboratorium ini berhasil membangun repositori rekaman suara perairan Singapura yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Pendekatan ini sangat berguna terutama di lokasi dengan jarak pandang rendah atau kondisi yang menyulitkan survei visual sehingga para ilmuwan dapat membaca kondisi terumbu melalui suara. Dengan menganalisis rekaman tersebut, penelitian mereka menggali bagaimana suara dapat mengungkap pola kehidupan dan aktivitas di bawah permukaan laut, termasuk dalam ekosistem terumbu karang yang sulit diamati secara visual. Terumbu karang yang sehat umumnya lebih bising karena dipenuhi aktivitas udang sentadu, ikan, dan organisme lainnya. Sebaliknya, terumbu yang rusak akibat pemutihan, polusi, atau hilangnya habitat biasanya jauh lebih sepi.

Karena hidrofon dapat merekam secara terus-menerus dalam jangka waktu lama dan data suara mudah disimpan, pemantauan suara bawah air memungkinkan para peneliti melacak perubahan aktivitas terumbu dari waktu ke waktu, membandingkan berbagai lokasi terumbu, serta mendeteksi gangguan yang mungkin tidak terlihat melalui metode lain. Pola seperti intensitas bunyi jentikan udang atau keberadaan suara ikan dan mamalia laut dapat menunjukkan perubahan keanekaragaman hayati, tutupan karang, dan kesehatan ekosistem secara keseluruhan.

Suara-suara tersebut bahkan membantu hewan laut lain menemukan terumbu karang. Larva ikan dan organisme terumbu lainnya menggunakan soundscape terumbu sebagai petunjuk saat menentukan tempat untuk menetap. Terumbu yang aktif dan bising cenderung menarik lebih banyak kehidupan, sedangkan terumbu yang lebih sunyi dan rusak sering kali kesulitan menarik generasi baru spesies laut. Dengan demikian, suara gemeretak udang sentadu bukan hanya hasil sampingan kehidupan terumbu, melainkan juga bagian penting dari cara terumbu beregenerasi dan mempertahankan keberlangsungannya dari waktu ke waktu.

Karena itu, apa yang terdengar seperti bunyi gemeretak biasa bagi telinga manusia sebenarnya merupakan sinyal kehidupan yang sangat kompleks. Dengan belajar mendengarkan secara lebih saksama, para ilmuwan mulai memahami terumbu karang bukan sekadar sebagai pemandangan, melainkan sebagai ekosistem hidup yang bersuara, sekaligus membuka cara-cara baru untuk memantau dan melindunginya di tengah perubahan laut yang begitu cepat.

Kontributor

Dr Hari Vishnu
Dr Hari Vishnu
Peneliti fisika suara di Acoustic Research Laboratory, National University of Singapore

Hari Vishnu adalah Senior Research Fellow di National University of Singapore. Penelitiannya mencakup pembelajaran mesin untuk aplikasi bawah air, bioakustik, dan pemrosesan suara impulsif, yang diterapkan di berbagai lingkungan perairan, mulai dari perairan tropis yang dipenuhi suara udang snapping shrimp hingga wilayah kutub yang didominasi oleh suara lelehan gletser. Ia memperoleh gelar Ph.D. dari Nanyang Technological University, dan pernah menjadi Visiting Fellow di Scripps Institution of Oceanography pada tahun 2019–2021. Fokus penelitiannya saat ini meliputi penilaian keanekaragaman hayati akustik, akustik es yang mencair, dan distributed acoustic sensing. Hari juga memegang peran sebagai Secretary/Deputy Secretary dalam kepemimpinan IEEE Oceanic Engineering Society, menjabat sebagai Chief Editor majalah outreach mereka, Earthzine, dan berperan penting dalam penyelenggaraan Singapore AUV Challenge, salah satu kompetisi robotika kelautan mahasiswa terbesar di Asia dan Eropa.