Pak Awalludin di pantai Desa Pengudang, Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia, 15 Maret 2026. Atas izin NTU CCA Singapore.
Pak Awalludin, atau yang akrab disapa Pak Udin, adalah seorang nelayan yang tinggal di pesisir timur laut Bintan, tepatnya di Desa Pengudang. Bersama istrinya, Mariani, ia juga mengelola homestay kecil di tepi laut. Di pantai depan rumahnya, setiap hari ia melaut ke perairan sekitar, tidak jauh dari daratan.
Dalam video tersebut, Pak Udin berbagi cerita tentang betapa eratnya kehidupan nelayan dengan terumbu karang.
Pak Udin sedang berbicara tentang penangkapan ikan dan terumbu karang di Pengudang.
Baginya dan nelayan lain di Pengudang, terumbu karang berperan sangat penting. Karang menjadi tempat berkumpulnya ikan, sehingga menjadi lokasi utama untuk mencari ikan. Selain itu, karang juga berfungsi sebagai pelindung alami yang menahan gelombang besar agar tidak langsung menghantam garis pantai. “Kalau ada karang, pasti ada ikan,” jelasnya. Warga desa juga meyakini ini. Meskipun dulu pernah terjadi pengeboman ikan, kini semakin banyak nelayan sadar betapa pentingnya menjaga terumbu karang sebagai habitat ikan, agar tetap bisa menopang kehidupan mereka.
Pak Udin sedang menyiapkan perahunya di Pengudang sebelum berangkat ke lokasi penangkapan ikan di sekitar desa, Pengudang, Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia. Atas izin Awalludin.
Pak Udin sedang menyiapkan perahunya di Pengudang sebelum berangkat ke lokasi penangkapan ikan di sekitar desa, Pengudang, Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia. Atas izin Awalludin.
Namun demikian, Pak Udin melihat terumbu karang sekarang sudah berubah. Beberapa lokasi karang yang dulu ada, kini tertutup pasir akibat erosi dan sedimentasi, terutama saat musim angin utara antara November hingga Maret, ketika gelombang laut cukup kuat. Selain itu, ia juga menyoroti dampak pembangunan pesisir dan industri sehingga hutan mangrove di pesisir hilang, pepohonan di daratan berkurang dan semakin banyak sedimen terbawa ke laut, yang kemudian menutup dan merusak terumbu karang.
Terumbu karang tidak hanya menjadi tempat mencari ikan, tetapi juga menjadi penanda arah di laut. Para nelayan mengenali lokasi karang berdasarkan pengalaman, menggunakan patokan di darat atau membaca arah arus laut. Tempat-tempat ini membantu mereka menentukan di mana harus berlabuh, mencari ikan, serta berlayar dengan aman.
Koloni karang di lepas pantai Desa Pengudang, Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia. Atas izin Awalludin.
Koloni karang di lepas pantai Desa Pengudang, Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia. Atas izin Awalludin.
Koloni karang di lepas pantai Desa Pengudang, Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia. Atas izin Awalludin.
Koloni karang di lepas pantai Desa Pengudang, Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia. Atas izin Awalludin.
Pengetahuan melaut juga sangat dipengaruhi oleh kepekaan panca indra. Pak Udin bercerita bahwa nelayan zaman dulu bisa mengetahui keberadaan ikan hanya dari bau. Saat berada di laut, mereka dapat mencium aroma khas, sedikit amis, sebagai tanda bahwa ada banyak ikan di lokasi tersebut. Ia juga mengingat temannya yang pernah mencium bau tersebut, takut karena mengira itu adalah hantu laut. Istilah ini digunakan untuk menyebut lokasi di laut yang diyakini dihuni makhluk gaib, biasanya berbentuk batu besar, kumpulan karang, atau bangkai kapal. Padahal, bau tersebut sebenarnya menandakan banyaknya ikan yang bisa ditangkap.
Cerita-cerita seperti ini adalah cara memahami laut lebih luas. Lokasi tertentu, terutama yang ada batu karang, masih dianggap sebagai hantu laut dan didekati dengan penuh kehati-hatian serta rasa hormat. Kepercayaan ini sejalan dengan pengetahuan lapangan tentang melaut, dan membentuk pola pikir nelayan untuk membaca, menafsirkan, serta berhubungan dengan laut.
Bagi Pak Udin, melaut bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari kehidupan. Meski kondisi laut kini semakin sulit diprediksi, ia tetap pergi ke laut, berbekal pengalaman, pengetahuan, dan rasa terhubung dengan laut yang mendalam.
Kontributor
Awalludin
Warga Desa Pengudang, Teluk Sebong, Bintan
Awalludin adalah seorang nelayan dan pemilik Bunda Homestay di Desa Pengudang, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan. Sejak kecil, ia tinggal dan bermain di hutan mangrove Pengudang. Ia pernah bekerja di Pemerintah Desa Pengudang. Ia menyukai dunia kelautan dan saat ini berfokus pada pariwisata serta kegiatan menangkap ikan di wilayah pesisir.