Membaca Karang, Mengarungi Laut

Johanes Jamil di atas perahu sampan di sepanjang pesisir Kawal, Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia. Atas izin Johanes Jamil.

Johanes Jamil adalah anggota sekaligus ketua komunitas Orang Suku Laut di kampung Masiran, Kawal, sebuah kampung di Bintan timur. Dalam wawancara video ini, ia berbagi cerita bagaimana terumbu karang tidak hanya penting untuk mencari ikan, tetapi juga bagian dari bagaimana kita memahami karakter dan mengarungi laut.

Bagi Johanes, karang hidup dengan berbagai tanda. Saat ombak tenang, katanya, kita bisa mengetahui keberadaan karang hanya dengan mendengar. Kadang melalui suara ikan, kadang dari hewan yang hidup di sekitarnya. Penyu, misalnya, kalau kita mendengar suaranya, maka pasti ada karang di dekatnya karena penyu selalu berada di dekat karang. Terumbu yang sehat juga punya suara khas. Jika suaranya kuat, maka artinya karangnya besar. Ikan seperti ikan gigu dan ikan selar mengeluarkan suara yang khas yang bisa diketahui nelayan yang sudah berpengalaman. Jadi, kita tidak hanya mengetahui keberadaan karang dari melihatnya, tetapi juga dari mendengarnya.

Johanes juga cerita tentang monggu, yaitu karang terbesar dalam satu koloni karang. Pengetahuan ini diwariskan dari kakeknya untuk di lapangan dan mengandung unsur magis. Ia menjelaskan bahwa banyak ikan besar berkumpul di sekitar monggu, dan ketika angin tidak terlalu kencang, karang ini bisa tercium, baunya amis seperti ikan, sehingga nelayan gampang menemukannya. Baginya, monggu adalah karang yang dapat menuntun orang menuju ikan, bukan hanya lewat penglihatan, tetapi juga lewat penciuman. Namun, monggu bukan sekadar tempat mencari ikan tetapi juga tempat sakral. Johanes menceritakan kalau dulu monggu pernah hancur akibat pengeboman ikan. Setelah pengeboman itu, ikan-ikan pun tidak lagi datang, dan orang-orang yang mengebomnya jatuh sakit. Jadi, terumbu karang tidak hanya habitat, tetapi juga dipercaya sebagai tempat yang harus dijaga dan memiliki unsur magis.

Selain itu juga, Johanes menyebutkan malang yaitu lokasi-lokasi berbatu di laut yang dijaga, sering kali berkaitan dengan terumbu karang, arus yang kuat, dan keberadaan makhluk tak kasatmata. Sebagian di antaranya adalah kawasan terlarang, area yang dibelah, di mana perahu tidak boleh melintas tepat di atas terumbu, melainkan harus memutar. Ia memberi contoh Monggu Lipan, yang diyakini mendatangkan wabah lipan jika dilakukan pengeboman ikan di sana. Ia juga menjelaskan tentang malang buruk, yaitu formasi batu hitam pekat di laut lepas Kawal, yang jumlahnya ada tiga. Menurutnya, yang paling kecil justru yang paling ditakuti. Di sekitar malang ini, dulu banyak ikan berkumpul, termasuk pari manta dan hiu tanpa gigi. Namun, para nelayan juga harus berhati-hati karena tempat ini berbahaya karena arus kuat dan adanya penjaga gaib. Kini, kata Johanes, banyak batu dan karang di sana rusak akibat pengeboman dan penangkapan dengan jaring. Pari manta sudah tidak ada lagi, dan banyak ikan lain ikut menghilang.

Terumbu karang juga penting bagi Orang Suku Laut untuk melihat arah laut. Sebelum ada GPS, Johanes menjelaskan bahwa mereka membaca laut dengan posisi Bintang Timur, arah empat mata angin, pergerakan awan, arus, bahkan kemunculan lumba-lumba. Karang pun termasuk. Jika permukaan air di atas terumbu bergetar seperti kaca, mereka akan tahu pasang surut dan arah angin. Mereka juga bisa tahu waktu dan kapan ikan keluar mencari makan dengan melihat Posisi Bintang Timur di pagi hari. Dengan ilmu ini, mereka tahu titik lokasi menangkap ikan dan arah kembali pulang.

Kontributor

Johanes Jamil
Johanes Jamil
Pemimpin Komunitas Orang Laut di Kawal, Kampung Masiran, Bintan

Johanes Jamil, yang lebih dikenal dengan nama Jembol, adalah keturunan generasi ketiga dari komunitas Orang Suku Laut yang menetap di Kawal, Bintan, dan saat ini menjabat sebagai kepala komunitas di Kampung Masiran. Ia memiliki hubungan yang erat dengan keluarga-keluarga Orang Laut di Bintan dan Lingga, serta meneruskan pengetahuan maritim, tradisi budaya, dan kepemimpinan komunitas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setelah menyelesaikan sekolah, Johanes menerima beasiswa untuk menempuh studi Pendidikan Agama dan Filsafat di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia kemudian kembali ke Bintan, dan pada tahun 2024 bergabung dengan Island Foundation sebagai fasilitator lokal yang mendukung pendidikan anak-anak. Dengan ketertarikan besar pada pembelajaran yang berakar pada budaya, Johanes percaya bahwa pendidikan seharusnya memperkuat pola pikir tanpa menghapus identitas. Saat ini, ia mengajar di berbagai pusat belajar di Bintan, sekaligus bekerja sebagai guru agama, pemain sepak bola yang antusias, dan penari yang berdedikasi.