Mak Dara di depan rumahnya di Dompak, Tanjungpinang, 16 Maret 2026. Atas izin NTU CCA Singapore.
Mak Dara dulunya adalah nelayan perempuan yang berasal dari Dompak, Tanjungpinang, Bintan. Lahir pada tahun 1953, ia melaut cukup lama, pekerjaan yang dipelajarinya dari sang ayah, yang tidak memiliki anak laki-laki dan selalu mengajaknya ke laut sejak kecil. Kini, ia lebih dikenal sebagai seniman tari tradisional, khususnya sebagai penari Joget Dangkong, sebuah pertunjukan rakyat Melayu yang khas dari Kepulauan Riau. Meski demikian, pengetahuannya yang mendalam tentang laut tetap melekat kuat dalam kehidupan dan ingatannya.
Dalam video ini, Mak Dara menceritakan bahwa cara ia mempelajari laut diwariskan dengan hati-hati oleh orang tuanya. Sejak kecil, ia diajarkan di mana lokasi tangkapan ikan yang baik, ikan apa yang bisa ditemukan di lokasi tertentu, serta bagaimana membaca daratan untuk memahami kondisi laut. Ia menjelaskan bahwa ia belajar dari orang tuanya cara menentukan arah di laut dengan memperhatikan pepohonan di garis pantai dari jauh. Pepohonan itu jadi patokan. Dengan menyesuaikan arah dirinya dengan pohon tersebut, ia bisa tahu di bagian laut mana terdapat kawasan karang. Di mana ada karang, biasanya di situ pula banyak ikan. Ikan berkumpul di sekitar karang karena mereka memakan lumut, sejenis alga yang tumbuh di sekitarnya. Dengan demikian, karang penting bagi nelayan, baik sebagai penunjuk arah di laut maupun sebagai lokasi utama menangkap ikan demi keberlangsungan hidup.
Mak Dara juga menjelaskan bahwa orang tuanya mengajarkan kalau tempat-tempat di laut, terutama yang berbatu dan berkarang, harus didekati dengan hati-hati dan penuh rasa hormat karena diyakini ada penjaganya atau sakral. Ketika memasuki wilayah seperti itu untuk mencari ikan, kita tidak boleh bersikap sombong atau berbicara sembarangan. Sebaliknya, kita perlu meminta izin. Seperti yang dikatakan Mak Dara, orang Melayu akan mengucapkan “Tabe Datuk” saat melewati tempat-tempat tersebut, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur atau makhluk tak kasatmata yang dipercaya menjaganya. Jika sikap hormat ini tidak dijaga, menurutnya, orang bisa jatuh sakit.
Cerita Mak Dara menunjukkan bahwa karang bukan hanya penting karena menarik ikan. Karang juga merupakan bagian dari tatanan nilai dan makna spiritual di laut yang menunjukkan bahwa menangkap ikan bukan cuma soal keterampilan dan pengetahuan tentang alam, tetapi juga tentang kepekaan, sikap rendah hati, dan menghormati tempat yang dimasuki.