Rumah apung (kelong cacak) di Kampung Masiran, Kawal, Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia, Maret 2026. Dokumentasi NTU CCA.
Karang di Atas Pintu: Pelindung Spiritual dalam Rumah Orang Laut
Johanes Jamil adalah seorang Orang Suku Laut yang berasal dari Kampung Masiran, Kawal, sebuah kampung pesisir kecil di bagian timur Pulau Bintan. Sebagai keturunan generasi ketiga sekaligus ketua persatuan nelayan yang menetap di Kawal, ia bangga akan warisan budaya leluhurnya dan tetap menjalin hubungan erat dengan keluarga-keluarga Orang Laut yang tersebar di berbagai pulau-pulau kecil di Bintan dan Lingga. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Johanes memperoleh beasiswa untuk menempuh studi Pendidikan Agama dan Filsafat di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Kini, ia aktif berbagi kisah tentang pengetahuan tradisional dan warisan budaya Orang Laut.
Di Kampung Masiran, Desa Kawal, banyak keluarga Orang Laut tinggal di rumah-rumah apung kecil di atas laut, yang dikenal sebagai kelong cacak. Di atas pintu masuk rumah-rumah tersebut, berbagai benda tergantung pada kayu-kayu pondasi rumah.
Di atas pintu sebuah rumah dapat dijumpai kuda laut kering atau pecahan karang yang digantung pada balok kayu. Keduanya dipercaya mampu melindungi rumah dari ilmu hitam dan gangguan makhluk halus, dan memberitahu sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh manusia. Karang yang digantung ada hubungannya dengan laut, sehingga sering dipasang di atas pintu untuk memohon rezeki dan hasil tangkapan ikan yang lebih banyak. Di rumah lainnya, cangkang siput laut berfungsi sebagai pelindung dari orang-orang yang membawa niat buruk. Sementara itu, sendok peninggalan leluhur atau anggota keluarga yang telah wafat kadang juga digantung sebagai pengingat akan leluhur yang telah tiada sekaligus sebagai penolak roh-roh gentayangan.
Alat perlindungan juga dapat dipasang di badan. Johanes menunjukkan sebuah cincin yang terbuat dari tempurung penyu laut. Menurut kepercayaan setempat, cincin itu mampu melindungi pemakainya dari racun. Jika seseorang yang mengenakannya diberi minuman beracun, cerita Johanes, gelas tersebut akan pecah sehingga bahaya dapat diketahui sebelum racun itu tertelan.
Bagi Orang Laut, benda-benda bukan pajangan. Keberadaanya mencerminkan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga Orang Laut. Setiap benda mengandung makna tersendiri, menjadi penghubung antara kehidupan laut, leluhur, dan cara bertahan hidup.
Bagi Orang Laut, karang tidak semata-mata dipandang sebagai bagian dari alam laut. Karang adalah bagian dari pandangan hidup yang dijalani sehari-hari, yang menghubungkan rumah, laut, dan jejak para leluhur. Digantung di atas pintu, karang menjadi simbol perlindungan spiritual sekaligus wujud penghormatan yang tenang kepada laut sebagai sumber kehidupan.
Seorang suku Orang Laut mengenakan cincin yang terbuat dari tempurung penyu, yang dipercaya dapat melindungi pemakainya dari racun. Kampung Masiran, Kawal, Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia, Maret 2026. Dokumentasi NTU CCA.
Seorang suku Orang Laut mengenakan cincin yang terbuat dari tempurung penyu, yang dipercaya dapat melindungi pemakainya dari racun. Kampung Masiran, Kawal, Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia, Maret 2026. Dokumentasi NTU CCA.
Tetapi, pengetahuan semacam ini jarang diakui sebagai keahlian lingkungan. Hubungan spiritual dengan kehidupan laut sering tidak masuk dalam kerangka ilmiah atau kebijakan, padahal hubungan tersebut turut membentuk cara masyarakat memahami, merawat, dan hidup berdampingan dengan ekosistem pesisir.
Bagi Orang Laut, benda-benda tersebut lebih dari sekadar simbol. Keberadaannya menjadi pengingat akan hubungan yang terus terjalin dengan laut dan para leluhur yang dulu mengarungi laut ini. Digantung di atas pintu rumah, karang dan benda-benda lainnya seolah hadir dalam kehidupan sehari-hari, menjaga keterhubungan antara rumah, laut, dan dunia spiritual.